Peradaban Sungai Nil
Mesir merupakan satu-satunya pusat kebudayaan tertua di benua Afrika yang berasal dari tahun 4000 SM. Hal ini diketahui melalui penemuan sebuah batu tulis di daerah Rosetta oleh pasukan Perancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte. Batu tulis itu berhasil dibaca oleh seorang Perancis yang bernama Jean Francois Champollion (1800) sehingga sejak tahun itu terbukalah tabir sejarah Mesir Kuno yang berasal dari tahun 4000 SM.
1. Letak Geografis
Mesir terletak di bagian utara benua Afrika. Di sebelah utara berbatasan dengan Laut Tengah, di sebelah timur berbatasan dengan Laut Merah, di sebelah selatan berbatasan dengan Sudan dan di sebelah barat berbatasan dengan Lybia.
Berkat adanya Sungai Nil, daerah Mesir menjadi daerah yang sangat subur. Sungai Nil bersumber dari suatu mata air yang terletak jauh di tanah tinggi Afrika Timur. Sungai Nil mengalir ke utara dan setiap tahun mendatangkan banjir. Banjir inilah yang mengubah padang pasir menjadi lembah-lembah yang subur. Lebar lembah itu antara 15 kilometer sampai 50 kilometer. Herodotus (ahli sejarah Yunani) menjuluki daerah Mesir hadiah dari sungai Nil. Di muara Sungai Nil terdapat suatu delta dan disitulah terletak kota-kota penting seperti Kairo, Iskandaria, Abusir dan Rosetta.
2. Seni Bangunan
Kira-kira pada tahun 3000 SM, raja-raja Mesir mulai membangun piramida-piramida. Piramida adalah kuburan raja-raja Mesir kuno, yang terbesar adalah piramida Firaun Cheops dgn tinggi 137 meter. Di depannya terdapa patung Sphinx, yaitu seekor singa berkepala manusia. Pembangunan piramida merupakan suatu pekerjaan yang besar bagi kerajaan Mesir, karena mengerahkan tenaga rakyat.
Untuk pemujaan terhadap dewa matahari, masyarakat Mesir mendirikan obelisk, yaitu tugu batu yan tinggi, runcing dan bersegi tiga. Pada bangunan obelisk terdapat lukisan relief dan huruf Mesir kuno yang berbentuk tuliksan ganbar (pictografis) yang disebut tulisan hieroglyph.
Bangunan-bangunan lain yang ditemukan di Mesir adalah istana di Gizeh, Karnak-Luxor, dan Kuil Agung di Abu Simbel.
3. Pertanian dan Pengairan
Karena merupakan daerah yang subur, manusia zaman kuno telah menetap di Mesir dan mengusahakan pertanian. Mereka menanam jelai, sekoi, gandum, dan bahan-bahan sandang. Untuk meningkatkan produksi, petani-petani Mesir membuat terusan-terusan dan mengalirkan air ke ladang-ladang. Mereka juga membangun waduk-waduk tempat menyimpan air.
Mereka hidup secara berkelompok dalam suatu daerah pertanian. Terbentuklah organisasi masyarakat seperti desa-desa. Tiap-tiap desa dikepalai oleh kepala desa. Mereka menarik pajak dari petani-petani dalam bentuk hasil bumi.
4. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Mereka sudah dapat mempelajari dan mengenal tata alam lingkungan tempat tinggalnya. Masyarakat Mesir kuno yang hidup dari hasil bercocok tanam memiliki banyak waktu luang untuk menambah pengetahuan tentang kehidupan baik yang bersifat material maupun spiritual. Masyarakat Mesir kuno percaya bahwa roh orang yang meninggal akan tetap hidup dan menghuni jasadnya, apabila jasadnya tidak rusak. Oleh karena itu di dalam tubuh orang yang meninggal dimasukkan bemacam-macam obat dan rempah-rempah agar tidak membusuk dan kemudian dibalut dengan bermacam-macam kain yang dipoles dengan kapur, garam, dan perekat, sehingga terbentuk mummi yang tidak dapat rusak atau membusuk.
Mummi orang kaya disimpan dalam kubur di batu-batu karang yang dihiasi dengan lukisan-lukisan pahat, sedang mummi raja-raja disimpan dalam bangunan kubur pengawet yang sangat megah (piramida). Sistem pengawetan dan penguburan jenazah itu menunjukkan bahwa masyarakat Mesir kuno sudah mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi.
5. Tulisan
Pada dinding kuburan para penguasa di Mesir kuno banyak dijumpai ternilai harganya bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Tulisan Mesir kuno terdiri dari jenis hieroglyph yang meurupakan gambar. Bentuk itu adalah yang tertua, kemudian berkembang menjadi bentuk hieratis dan demotis, yang bentuknya lebih sederhana. Bentuk hieratis digunakan oleh kaum pendeta, sedangkan demotis oleh rakyat.
Orang-orang Mesir kuno memahat tulisan-tulisan pada batu-batu. Mereka juga menulis pada daun papyrus dengan pena terbuat dari jerami dan sudah tentu mereka mengenal tinta.
6. Astronomi/Penanggalan
Pada tahun 2776 SM, mereka sudah mengenal penanggalan berdasarkan sistem peredaran matahari. Mereka membagi satahun menjadi 12 bulan dan setiap bulan terdiri dari 30 hari. Mereka sudah pula mengenal adanya tahun kabisat. Orang-orang Mesir juga mengenal ilmu astronomi atau ilmu perbintangan yang berkaitan erat dengan kehidupan pertanian. Misalnya, mereka menggunakan bintang sebagai patokan untuk menentukan musim atau saat-saat bercocok tanam dan sebagainya. Pengetahuan tentang ilmu perbintangan seperti ini dikenal hampir di seluruh dunia.
7. Pemerintahan
Sistem pemerintahan di Mesir berbentuk kerajaan yang diperintah oleh seorang raja dengan kekuasaan absolut atau mutlak. Para ahli membagi sejarah kerajaan Mesir menjadi 3 zaman, yaitu :
a. Zaman Kerajaan Mesir Tua
Raja-raja di zaman ini bertahta di Thinis. Pada awalnya ada 2 kerajaan yaitu kerajaan Mesir Hulu dan Mesir Hilir kedua kerajaan ini berhasil dipersatukan oleh Firaun Menes. Jadi, Raja Mesir juga disebut dengan nama Nesutbiti (Raja Mesir Hulu dan Mesir Hilir)
Raja-raja yang terkenal dari zaman kerajaan Mesir Tua antara tahun 2800-2700 SM adalah Raja Chufu (Cheops), Chefren, dan Menkaure. Peninggalan berupa makam-makam piramida, raja-raja ini memiliki kekuasaan yang besar dalam pemerintahannya.
Pada masa pemerintahan Firaun Pepi I, kerajaan Mesir memperluas daerahnya sampai ke Nubia Selatan dan Abessynia. Tapi setelah masa pemerintahan Firaun Pepi II, kerajaan Mesir dengan pusatnya Memphis semakin lemah dan musuh-musuh dari luar mendapat kesempatan untuk memecah belah kerajaan Mesir menjadi kerajaan-kerajaan kecil.
b. Zaman Kerajaan Mesir Pertengahan
Kerajaan Mesir terpecah belah akibat terjadinya pertentangan dan persaingan antara kaum bangsawan feodal. Raja dari kerajaan Thebe yang bernama Firaun Sesostris III berhasil mengatasi persaingan dan pertentangan tersebut dan berhasil memperluas wilayahnya ke daerah Nubia. Firaun Sesostris III berhasil memerintah kerajaan Mesir dengan baik. Perdangangan Mesir dengan daerah-daerah di sekitar Laut Merah berkembang dan bertambah ramai, sehingga kesejahteraan rakyat meningkat.
Setelah pemerintahan Raja Sesostris III terdapat beberapa raja terkenal yang pernah memerintah Mesir, di antaranya Firaun Amenemhet III. Namun, setelah Raja Amenemhet III meninggal muncul bangsa-bangsa Asia yang disebut bangsa Hyksos yang menyerang dan menguasai Mesir. Bangsa Mesir tidak ingin dikuasai oleh bangsa Hyksos shingga melakukan perlawanan dipimpin Firaun Ahmosis I dari kerajaan Thebe. Bangsa Hyksos berhasil di usir dan ibu kota Awaris direbut kembali. Berdirilah kerajaan Mesir baru. Firaun Ahmosis I diangkat menjadi penguasa Mesir. Setelah meninggal dia digantikan oleh Firaun Thutmosis I. Thutmosis I melakukan perluasan wilayah hingga ke daerah Asia Barat. Politik ini diteruskan oleh penggantinya yang bernama Firaun Thutmosis III. Di bawah pemerintahannya Babylona, Assyria, Cicilia, Cyprus, tunduk di bawah kekuasaan Mesir. Raja-raja Kerajaan Mesir baru setelah Thutmosis III meninggal yaitu Amenhotep II, Firaun Thutmosis IV, Amenhotep IV, Firaun Tut-Ankh-Amon, Firaun Haremheb, Firaun Ramses II, Firaun Ramses III.
Firaun Ramses III merupakan raja terakhir Kerajaan Mesir. Setelah ia meninggal, Mesir mengalami kemunduran dan dikuasai bangsa asing.
8. Kepercayaan
Masyarakat Mesir Kuno percaya dan memuja banyak dewa (polytheisme). Dewa yang di puja itu ada yang khusus milik masyarakat desa, daerah atau kota, bahkan ada dewa yang dihormati oleh seluruh bangsa Mesir.
Dewa-dewa yang dipuja bangsa Mesir di antaranya :
Dewa Osiris sebagai dewa tertinggi.
Dewa Thot (dewa pengetahuan).
Dewa Anubis (dewa berkepala anjing) sebagai dewa kematian.
Dewa Apis berwujud Sapi.
Dewa Ra (Dewa Matahari) dan kemudian menjadi Dewa Amon-Ra (Dewa Bulan Matahari).
9. Peninggalan Kebudayaan
Pada awalnya huruf hieroglyph merupakan huruf gambar. Dari huruf hieroglyph muncul tulisan baru yaitu hierotis yang dipergunakan oleh para pendeta mesir untuk keperluan keagamaan dan huruf demotis yang dipergunakan oleh rakyat.
a. Tulisan Hieroglyph
Huruf ini dipergunakan terus menerus hingga sampai abad ke 5 sesudah masehi. Tapi, karena kepercayaan masyarakat Mesir ditindas bangsa Romawi, maka para pendeta tidak sempat lagi mempelajari huruf hieroglyph sehingga akhirnya dilupakan oleh orang Mesir.
b. Piramida
Kira-kira tahun 3000 SM, Raja-raja Mesir mulai membangun piramida-piramida, dan yang paling besar adalah piramida Raja Chufu (Cheops). Tinggi piramida mencapai 137 meter dan didepannya terdapat patung sphinx. Tentang teknik pembuatannya dan tata cara organisasinya tidak banyak yang dapat diketahui. Kemungkinan sekali dilaksanakan dengan kerja paksa.
c. Ilmu Hitung
Pada awalnya masyarakat Mesir menggunakan ilmu hitung yang sangat sederhanan,khususnya penambahan dan pengurangan. Selanjutnya dikembangkan perkalian dan pembagian. Pengetahuan ilmu ukur (geometri) mereka telah mencapai tingkat keahlian yang cukup mengagumkan. Mereka sudah mampu mengukur dan menghitung dengan tepat luas segi tiga,segi empat,segi lima dan seterusnya. Bahkan mereka telah dapat membuat rumusan untuk mencari diameter lingkaran. Kepandaian mereka dapat dipergunakan untuk menghitung isi piramida,silinder dan bahkan isi dari belahan bumi ini.
d. Sphinx
Sphinx adalah patung seekor singa yang berkepala manusia yang didirikan di depan sebuah piramida. Sphinx merupakan lambang kekuasaan dan pemerintahan dari seorang raja Mesir yang dimakamkan pada piramida itu. Kepala Sphinx merupakan lambang kebijaksanaan dan badan Sphinx merupakan lambang kekuatan dari raja yang memerintah.
e. Obelisk
Obelisk merupakan sebuah tugu batu yang didirikan oleh masyarakat Mesir untuk memuja Dewa Amon-Ra (Bulan-Matahari).
f. Mummi
Mummi adalah mayat atau jenazah para raja atau bangsawan yang diawetkan. Pembuatan Mummi ini didasarkan pada kepecayaan masyarakat Mesir bahwa jiwa orang yng telah meninggal akan tetap hidup terus dan berada pada badan jasmaninya apabila badan jasmaninya tidak rusak.
g. Kota-kota Kuno di Mesir
Kota-kota kuno di Mesir erat hubungannya dengan kekuasaan raja-raja Mesir Kuno. Kota-kota tersebut diantaranya :
Kota Gizeh, dikota ini terdapat bangunan piramida yang terbesar dan terkenal,yaitu piramida Raja Cheops,yang memiliki ketinggian 137 meter. Disamnping itu ditemukan juga bangunan Sphinx dan bangunan istana raja.
Kota Deir el Bahri,di kota ini ditemukan bangunan tempat pemujaan masyarakat Mesir seperti Kuil Dewa Amon yang dibangun oleh Ratu Hatshepsut.
Kota abu simbel,di kota ini ditemukan bangunan kuil yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Ramses II.
Kota Memphis dan Thebe,di kedua kota ini terdapat bangunan-bangunan istana yang sangat indah dan megah.
Senin, 22 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar